Di era globalisasi yang serba canggih dan modern ini, ternyata perbudakan masih menjadi ancaman warga dunia. Fakta mengenai perdagangan manusia terus bermunculan, dari survei tahunan Indek Perbudakan Global yang dikeluarkan Walk Free Foundation mencatat lebih dari 45 juta orang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak terjebak dalam perbudakan modern.

I met around 3000 students in Indonesia to distribute Impian Dewi's educational comic books. This is very empowering and I couldn't wait to visit them again next year to do the evaluaPerbudakan modern mengacu pada eksploitasi yang menyebabkan seseorang tidak bisa bebas karena ancaman, kekerasan, pemaksaan, penyalahgunaan wewenang, pemerasan, dan penipuan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang dipaksa bekerja sebagai pekerja seks atau pembantu rumah tangga. Perbudakan modern juga muncul dalam bentuk penyalahgunaan anak-anak, kawin paksa, perbudakan domestik dan kerja paksa yang dilengkapi dengan tindak kekerasan dan tidak diupah sebagaimana mestinya.

Kenyataan bahwa hal-hal tersebut masih terjadi dibenarkan Shandra Woworuntu, aktivis kemanusiaan yang saat ini duduk sebagai salah satu anggota Dewan Penasehat Presiden Barack Obama bidang anti perdagangan manusia dan perbudakan, dalam wawancara Kabari mengungkapkan beberapa kasus yang pernah ditanganinya.

Shandra mengatakan sering kali perdagangan manusia terjadi karena belum semua paham apa itu perdagangan manusia, terutama kasus yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) di Amerika. “Saya banyak menemui WNI/TKI
yang tidak paham kalau mereka menjadi korban. Mereka tidak paham kalau tidak perlu takut untuk ‘keluar’ dari suasana tidak menyenangkan itu. Ada banyak yayasan dan layanan yang disediakan untuk membantu, tapi karena tidak tahu dan diancam mereka bungkam”, ungkap wanita Indonesia yang aktif berkiprah di AS itu.

Tergerak menegakkan keadilan, Shandra punya tekad untuk terus berdiri di garda depan mensosialisasikan dan membantu korban-korban perdagangan manusia dan perbudakan. Salah satu kasus yang pernah membuat dirinya geram, yakni laporan kasus perdagangan TKI yang dilakukan oleh diplomat RI. “Kasus diplomat tidak hanya datang dari Timur Tengah seperti Kuwait dan Arab Saudi, tapi juga diplomat Indonesia yang memperdagangkan salah satu
anak Indonesia” ungkap Shandra.

Cinta untuk berbicara kepada anak-anak, mereka sangat berhargaShandra memaparkan, dari temuan kasus yang didapatinya, TKI tersebut dipekerjakan oleh pejabat RI yang bekerja di New York dengan gaji yang tidak sesuai perjanjian, disiksa dan diperlakukan tidak manusiawi, bahkan dari pengakuan korban terungkap dirinya juga dipekerjakan untuk menjaga anak-anak diplomat yang lain. “Dia bekerja antara 16-18 jam, digaji hanya 400 US dollar selama empat tahun, disekap, disiksa tidak hanya fisik tapi juga kata-kata. Ini membuat korban menjadi sangat ‘kecil’ (tidak berdaya), banyak ancaman yang didapatkan termasuk diancam penjara atau dipulangkan, paspor diambil. Ini tidak benar, tidak beradab” katanya kesal. “Kita harus memperlakukan manusia secara beradab, tapi kenyataannya ini tidak” imbuhnya lagi.

Beruntung, nasib buruknya berakhir. Setelah berhasil meloloskan diri dia menemui Shandra dan meminta pertolongan karena tidak memiliki identitas. Dia datang kepada saya, kata Shandra dan menyampaikan bahwa dirinya sudah meminta permohonan paspor tapi tidak juga diproses. “Kita ini WNI, identitas WNI selama di luar negeri adalah paspor, apabila kita tidak ada, apa identitas kita?” ungkap ibu dua anak itu. Shandra mengatakan semestinya pejabat perwakilan pemerintah melihat alasan utama kenapa sampai pemohon kehilangan paspor atau mencoba menemukan masalah yang dihadapi dan tidak langsung mengambil tindakan deportasi karena menilai pemohon bermasalah. “Karena mendapat ancaman deportasi saya langsung menghubungi Deplu yang ada di New York, dengan membawa surat dari Yayasan kami (Mentari) dan membawa yang bersangkutan, akhirnya kami dibantu” terangnya.

Dari kasus yang ditemui, Shandra dan teman-teman banyak berperan, tidak hanya menemukan korban, tapi juga memberi semangat dan solusi kepada para korban untuk menemukan kehidupan mereka yang layak. Kini korban telah menjalani kehidupan yang lebih baik, dibantu dan diberi santunan untuk melanjutkan pendidikan. “Sekarang dia sudah kuliah, mudah-mudahan dia bisa mencapai cita-citanya yang diimpikannya” ungkapnya senang.

Survivor lead the walk, It was powerful voice@ Stop Modern SlaveryBeberapa kasus di antaranya kerap dijadikan contoh untuk menghimbau kepada semua pihak, termasuk pejabat terkait untuk tidak memukul rata permasalahan, dan menganggap semuanya berkepentingan. “Tolonglah WNI yang mempunyai masalah, tidak semuanya nakal. Memang mungkin sebagian ada yang ingin menduplikasikan paspor, tapi jangan semua dipukul rata bermasalah” tegasnya. Dalam himbauannya dia mengatakan, perdagangan manusia adalah kriminal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tidak bisa didengar telinga kita langsung, tapi kita bisa lihat dengan mata hati dan pikiran untuk melihat masalah itu, dan kita tidak bisa menghakimi seseorang sebagai pelaku padahal dia korban.

Temuan kasus lain yang melibatkan WNI juga didapatkan dari laporan salah satu yayasan di Washington DC yang melibatkan pejabat. Dalam laporan itu Shandra mengetahui adanya perdagangan manusia yang dilakukan diplomat. “Awalnya korban diperdagangkan oleh diplomat bangsa lain lalu melakukan pengaduan ke kedutaan di Washington DC, tapi kenyataannya dia malah diperdagangkan. Kasihan sudah jatuh tertimpa tangga. Disinilah saya ingin mengatakan, tolonglah kaum yang lemah jangan ditindas” tegas Shandra. (1001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here