Dalam perbincangan dengan Aryo Wicaksono, dari KabariNews, Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation bicara tentang tuduhan penistaan agama yang dialamatkan kepada Basuki Tjahaja Purnama. Menurut pria yang pernah menjabat sebagai  Imam Masjid New York, demonstrasi agar Ahok diadili tidak merembet ke arah disintegrasi bangsa. “ Tentu kita ingin mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa. Saya seorang muslim yang tinggal di negara ‘mbahnya’ demokrasi ini senang dengan perkembangan demokrasi di Indonesia. Walaupun ada yang merasa tersinggung, marah tapi tidak perlu melakukan kekerasan. Demonstrasi sebuah ekspresi lumrah di alam demokrasi. Apa yang terjadi di Indonesia saat ini bagian dari euphoria kebebasan,” terangnya.

Lanjut Shamsi, meski Indonesia telah merdeka lebih dari 70 tahun, tetapi baru merasakan kemerdekaan yang sesuungguhnya setelah Orde Baru tumbang. Apa yang dikatakan Pak Ahok di Kepulauan Seribu, saya tidak melihat hitam putih saja. Bagi sebagian masyarakat muslim itu melecehkan. Karena ada sensitivitas, ini tidak mengganggu proses demokrasi. Kita ingatkan pada teman muslim tapi juga Ahok bahwa ada sesuatu di masyarakat yang perlu kita jaga. Cara ngomong Ahok dijaga, ini bukan membatasi hak dan kebebasannya,” tukasnya.

Bagi Shamsi yang rutin pulang ke Indonesia, Jakarta dibawah kepemimpian Ahok mengalami perkembangan yang baik. “Saya melihat Jakarta sudah ada perbaikan. Yang menjadi masalah, bagaimana Pak Basuki bisa melakukan pendekatan ke masyarakat karena Jakarta itu wajah Indonesia. Semua masyarakat ada di Jakarta, ada Jawa, Bugis, Ambon, Batak, Kristen, Islam, Hindu. Nah, sebagai gubernur bagaimana merangkulnya,” ucapnya.

Dikatakan  Shamsi, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa tersopan di dunia. “Yang dikagumi dunia karena karakter kita yang bersahabat. Khusus untuk Pak Ahok, dengan segala kesuksesan beliau, saya kok agak terusik. Misalnya saat beliau memberikan pengarahan ke staf, kok sampai begitu ngamuk-ngamuk. Saya kira kalau sebagai pribadi ga apa-apa tapi karena sebagai gubernur tentu orang menilai. Saya berharap program yang sudah baik akan berkelanjutan. Pendekatan itu untuk memperbaiki Jakarta itu tetap memilih jalan yang santun dan manusiawi. Pak Jokowi harusnya memberikan inspirasi ke Pak Ahok, bagaimana memperbaiki Jakarta dengan memperhatikan nilai kemanuasian. Kedepannya kita ingin Jakarta lebih baik tapi jangan menginjak-nginjak manusianya,” jelasnya panjang lebar.

Tak hanya mengkritisi Ahok, Shamsi juga menilai cara berbicara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. “Seorang pemimpin cara ngomong harus berubah. Kalau dia ngomong itu representasi Amerika. Seorang pemimpin itu harus memperhatikan cara ngomongnya,” tukas Shamsi.

Masih menurut Shamsi, tokoh lain yang diperhatikan kiprahnya adalah Presiden Indonesia, Joko Widodo.  “ Saya mendukung program Pak Jokowi. Namun, memang beliau tidak bisa hindari intervensi dari Parpol. Rakyat kita semakin terbuka, semakin tau apa yang terjadi di tingkat elit. Penjualan aset negara, dulu rakyat tidak tau. Kini apa yang terjadi tingkat nasional, rakyat di desa juga tau. Kendala Pak Jokowi, bagaimana menghadapi tingkah para politisi yang ada, partai yang ada. Jangan sampe beliau hanyut dengan yang ini. Saya mendorong agar program selama kampanye itu bisa diimplementasikan. Jangan sampai karena beking menghilangkan citra atau kekhasan Pak Jokowi. Seorang yang peduli rakyat. Kita ingin rakyat sejahtera, jangan hanya elit yang sejahtera,” tutup Shamsi.  (Reportase : Aryo Wicaksono, East Coast, New York/Kabari1010)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here