Bill Kadarusman, pengacara Indonesia di Amerika menjelaskan kasus pengadilan hukuman dua tahun penjara yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lantaran kasus penodaan agama jika dilihat dari kacamata hukum mengenai pasal 156 dan 156a KUHP merupakan criminal code dan hukumannya penjara.

“Dari segi itu saja coba kita lihat, criminal code itu biasanya harus ada dua elemen yakni kerugian dan korban, namun dari kedua segi itu kita tidak bisa melihat, siapa korban dan apa kerugiannya, sebagai contoh kalau misalanya pencurian, perampokan itu semua ada korban yang dicuri, ada kerugian jelas kan, pembunuhan juga begitu ada korban ada kerugian, keluarga yg dibunuh, “ jelas Bill saat wawancara bersama Kabari.

Namun, menurut Bill, dalam kasus Ahok ini kerugian dan korbannya tidak jelas, dapat dilihat saat sesi tanya jawab hakim kepada saksi Habib Novel.

“Pak Novel, apa kerugian bapak? Jawabnya iman saya terganggu, bapak ganti iman? Jawabnya tidak, terus bapak kehilangan pekerjaan? Jawabnya tidak, terus bapak kehilangan uang,  jawabnya tidak, jadi apa kerugian bapak? itu tadi iman saya terganggu, “ imbuh Bill menjelaskan.

Dilihat dari segi tersebut, lebih lanjut menurut Bill, rasanya sulit dibilang saksi menerima kerugian, “Dari segi itu saja sulit dibilang kalau dia rugi karena semua orang bisa imannya terganggu, apa kalau saya imannya terganggu orang yg mengganggu iman saya berhak untuk di penjara? itu kan tidak masuk akal, “ tutur Bill.

Menurutnya, hal tersebut bisa dikatakan keadilan sebenarnya tidak ada, “Sampai saat ini saya merasa sedih juga saya merasa masih belum bisa terima kalau itu adalah keputusan yang adil, “ pungkasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here