Texsa, pemuda salah satu diaspora Indonesia di negeri Paman Sam menanggapi aksi solidaritas yang digelar oleh Warga Negara Indonesia (WNI) atas vonis Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lantaran kasus penistaan agama serta keadilan yang sedang menjadi polemik di tanah air. Diadakannya aksi tersebut, bagi Texsa sangat berkesan, ia pun mengungkapkan kesedihannya, “Pengalaman pertama kali dengar waktu itu Ahok di vonis, saya sedihnya ga karuan, saya sampai ga bisa tidur seharian,” ungkap Texsa saat wawancara dengan Kabari di sela aksi solidaritas, di San Francisco, Amerika.

Sempat terpikirkan di dalam benak dirinya, apa yang harus bisa dilakukan untuk bisa menyuarakan aspirasinya, Texsa mengatakan bahwa aksi yang digelar oleh para WNI pro Ahok ini memberikan pesan positif, “Acara ini menurut saya mengirim pesan yang baik sekali, baik ke rakyat Indonesia, ke seluruh dunia, kita tidak tinggal diam untuk ketidakadilan,” katanya.

Lebih lanjut menurut dia, apa yang terjadi pada Ahok merupakan ketidakadilan yang sangat besar. Menanggapi aksi solidaritas untuk Ahok dengan kasus penodaan agama, bagi dirinya agama merupakan tuntunan bagi setiap pemeluknya, “Bagi saya pribadi, agama harus menjadi tuntunan kita berperilaku bukan untuk alat kekuasaan politik, alat untuk memaksakan kehendak, karena orang yang beragama harusnya agama itu menjadi arahan hidup bukan untuk memaksakan kehendak ke orang lain,” ujarnya.

Saat ini Texsa sebagai minoritas yang tinggal di Amerika, ia pernah mendapat pelajaran di masa kecil untuk bisa melindungi setiap umat beragama, pun demikian ketika ia menjadi mayoritas di Indonesia, “Sebagai seorang muslim, dari kecil saya diajarkan bahwa orang yang punya kekuatan yang berada di grup mayoritas seharusnya melindungi minoritas, karena itu adalah kamu dari Tuhan diberikan privilege lebih dibandingkan orang-orang
lain dari grup minoritas, misalnya di Indonesia, baik dari Kristen, Hindu, Budha, Islam minoritas, bahkan aliran kepercayaan bahkan atheis, kita sebagai muslim harusnya sadar bahwa kita diberi privilege lebih dari grup-grup yang lain, harusnya kita bisa melindungi mereka, pastikan mereka hidup dengan damai, pastikan sesuatu yang buruk tidak ada terjadi pada mereka dan menurut saya event ini mengirim pesan positif kepada dunia” tukas Texa.

Texsa sendiri sudah menetap di Amerika kurang lebih dari satu tahun, namun sebelumnya saat masih anak-anak, ia juga pernah tinggal selama empat tahun di Negara yang saat ini ia tinggal. Perlindungan minoritas di Amerika menurut texsa sangat baik, ia juga menilai perlu adanya peningkatan, karena diketahui masih ada beberapa friksi-friksi kecil, selain itu, Texsa pernah memiliki pengalamannya saat berdiri sebagai minoritas di negeri Paman Sam, dan yang membuat dirinya terkesan adalah saat melaksanakan sholat jumat pertama kali di Amerika.

“Pada saat keluar dari masjid melihat orang-orang Amerika itu berkumpul di luar masjid bawa spanduk, saya kaget, loh ini ada apa? Dan pada saat itu pas lagi ramai tentang isu muslim ban dari pemerintahan sekarang, saya kaget, saya takut, tapi saat saya keluar dan baca spanduknya ternyata mereka disana untuk dukung kita, ada spanduk yang mengatakan you are not alone, your free to practise your religion here, we are wait you, dan segala macam spanduk, terus saya hampir nangis, terus terang itu sholat jumat pertama kali saya di sini saya dapat sambutan yang menurut saya luar biasa, saya iri sebetulnya, kapan Indonesia bisa seperti itu,” pungkas Texsa. (Kabari1008)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here